Minggu, 27 Juli 2014

Tips Makan Sehat Saat Lebaran


Setelah menjalankan puasa selama sebulan penuh, kini saatnya umat muslim merayakan hari kemenangan. Hari raya lebaran biasanya identik dengan makanan-makanan yang bersantan dan berlemak yang bisa memicu penyakit tertentu. Bagaimana agar bisa tetap sehat selama merayakan hari kemenangan?

Pada saat lebaran masyarakat banyak makanan seperti opor ayam, rendang, gulai, sambal goreng ati dan makanan berlemak lainnya. Makanan tersebut biasanya mengandung kolesterol yang tinggi. Untuk itu sangat penting mangatur pola makannya, agar tidak mengganggu perayaan kemenangan lebaran.

"Setiap orang harus memiliki kesadaran untuk selalu melakukan asupan makanan dengan pola diet seimbang,” ujar DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc, seorang ahli gizi.

Saptawati menambahkan masyarakat harus tahu apakah asupan makannya sudah seimbang atau belum. Dengan komposisi karbohidrat sekitar 55 sampai 65 persen dari asupan kalori total, asupan lemak sekitar kurang dari 30 persen dari asupan kalori total dan asupan protein sekitar 10 sampai 20 persen dari asupan kalori total.

Berikut beberapa tips yang diberikan Saptawati agar tetap sehat saat mengonsumsi makanan lebaran:
  1. Makan tetap teratur jadwalnya serta selalu tidak mengambil porsi yang terlalu besar setiap kali makan. Jadwalnya makan pagi sesudah shalat, selingan pagi, makan siang, selingan sore dan makan malam. Semuanya dengan porsi seperti hari-hari biasa.
  2. Konsumsi makanan dengan komposisi zat gizi yang seimbang, yaitu lebih banyak sumber karbohidrat kompleks (nasi atau ketupat), sedikit lemak dan protein (opor, gulai) serta sedikit sekali gula, minyak dan garam termasuk kue-kue yang manis.
  3. Setiap kali makan harus terdiri dari berbagai jenis makanan termasuk sayur dan buah. Dan jangan setiap kali makan hanya mengambil makanan yang disukai saja atau yang enak rasanya.
  4. Selalu ingat bahwa makanan yang kaya kandungan lemak akan memberikan asupan kalori yang paling besar.

”Untuk mengurangi efek terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, usahakan mengurangi makanan yang manis-manis ataupun gorengan dan sebaiknya lebih memilih sayur dan buah saja,” ujar dokter dari Departemen Ahli Gizi FK-UI ini.

Jadi, makanan berlemak dan bersantan bukan menjadi halangan dalam merayakan hari kemenangan asalkan porsinya tidak berlebihan. Dan Anda tetap sehat untuk bisa bersilaturahmi ke rumah sanak saudara

sumber: health.detik.com

Sabtu, 26 Juli 2014

Tips Sehat Mudik



Mudik merupakan budaya masyarakat kita khususnya menjelang lebaran ini. Tujuan mudik sendiri adalah bersilaturahmi bertemu keluarga besar dan kawan lama yang telah lama tidak berjumpa. Oleh karena itu, perjalanan mudik harus dipersiapkan dengan baik agar saat ditempat tujuan kita tetap dalam keadaan sehat.

Hari-hari ini dan sampai menjelang lebaran proses perjalanan mudik sudah dimulai. Oleh karena itu, perjalanan mudik perlu dipersiapkan dengan baik sehingga kita tetap sehat setelah sampai di tujuan. Kelelahan merupakan kondisi yang umum terjadi jika kita melakukan perjalanan darat yang panjang dan lama. Kelelahan berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh dan akhirnya membuat tubuh kita mudah terinfeksi oleh kuman atau virus terutama bakteri dan virus penyebab penyakit infeksi usus (diare) dan penyakit infeksi saluran pernafasan atas (flu, batuk pilek dan sakit tenggorokan).

Proses mudik tersebut meliputi jenis kendaran yang digunakan, lama perjalanan termasuk kemungkinan kendala-kendala diperjalanan dan waktu perjalanan. Persiapan umum bagi para pemudik adalah isitirahat cukup sebelum berangkat bagi seluruh anggota keluarga yang akan berangkat terutama bagi pemudik yang menggunakan jalan darat, mengingat waktu sampai ketempat tujuan tidak bisa diprediksi. Bagi pemudik yang memang kebetulan membawa kendaraaan sendiri, sebaiknya ada beberapa anggota keluarga yang bisa mengendarai kendaraan sehingga kendaraan tersebut dapat dikendarai secara bergantian.

Selama perjalanan mudik manfaatkan tempat istirahat untuk bisa melakukan olah raga kecil dan bisa melakukan gerakan relaksasi khususnya kaki, tangan dan leher. Manfaatkan juga tempat istirahat untuk bisa buang air kecil agar jangan sampai menahan kencing yang akan berakibat pada infeksi saluran kencing. Dalam kondisi perjalanan yang tidak bisa diprediksi seperti kemacetan maka jika ada kesempatan untuk berhenti di tempat istirahat (rest area) atau pom bensin diusakahan agar bisa buang air kecil (BAK). Kejadian infeksi saluran kencing (ISK) dapat terjadi akibat kita menahan BAK yang seharusnya tidak terjadi.

Bagi para pemudik yang tetap ingin puasa, diusahakan agar perjalanan mudik pada saat sehabis berbuka. Perjalanan malam lebih menguntungkan selain udara yang lebih dingin saat perjalanan malam tersebut kita tidak dalam keadaan berpuasa. Usahakan jangan membeli makanan dan minuman di pinggir jalan mengingat kualitas makanan dan minuman yang belum tentu terjaga dengan baik karena selalu terpapar dengan panas. Terutama untuk makanan dan minuman rumahan (hand made). Makanan dan minuman ini berpotensi terkontaminasi baik dari debu dan kotoran lain karena memang dijajakan di jalan raya. Pemudik yang akan membawa makanan untuk bekal selama perjalanan usahakan membawa makanan kering, jika tetap juga ingin membawa bekal makanan selama perjalanan harus diperhatikan bahwa makanan basah atau nasi dan lauk-pauk yang dibawa tidak dikonsumsi kurang dari 6-8 jam setelah pembuatan. Mengingat makanan tersebut tidak tersimpan dengan kondisi baik selama perjalanan.

Satu hal lagi yang kadang kala kita luput adalah membawa obat-obatan sederhana antara lain obat anti diare, obat sakit kepala, obat anti alergi, obat anti mual-muntah khususnya untuk mencegah mabuk perjalanan serta obat sakit maag. Obat-obatan tersebut sangat membantu sebagai obat pertolongan pertama. Selain itu krim/balsem penghangat badan juga membantu yang bisa digunakan selama perjalanan.

Bagi para pemudik dengan penyakit kronis misal penderita kencing manis, hipertensi, penderita asma, kolesterol tinggi dan asam urat tinggi harus selalu ingat untuk membawa obat-obatan yang rutin dikonsumsi dengan jumlah yang cukup, baik selama berada di kampung maupun saat kembali. Kita harus maklum bahwa dalam suasana menjelang lebaran ini kita tidak bisa memprediksi apotik-apotik dan toko obat yang buka selama perjalanan atau saat kita berada di kampung.

Pilihan mudik malam hari merupakan pilihan yang tepat mengingat suhu udara yang lebih dingin dan perjalanan yang lebih lengang. Walau saat puncak mudik sepanjang hari pada daerah-daerah tertentu terjadi kemacetan yang panjang, tapi dengan suhu yang dingin kita tidak cepat dehidrasi, apalagi jika menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi dengan pengaturan udara kendaraan yang kurang baik.

Bagi pemudik yang memang menggunakan kendaraan umum, barang bawaan juga harus menjadi perhatian mengingat barang tersebut harus dibawa sendiri dan tentu ini akan lebih menguras tenaga apalagi pemudik yang membawa anak-anak yang masih kecil. Lebih baik barang bawaan khususnya oleh-oleh lebih mudah jika dipaketkan terlebih dahulu.

Pada akhirnya, perjalanan mudik yang rutin dilakukan setiap tahun ini tetap harus dipersiapkan dengan baik agar kita tetap selalu sehat sesampainya dikampung halaman dan tempat tujuan.

Selamat jalan, selamat sampai tujuan... 

sumber: health.kompas.com

Kamis, 24 Juli 2014

Ini Pemicu Utama Badan Melar Pasca Lebaran




Saat lebaran, berbagai hidangan tersedia mulai dari opor ayam, ketupat, es buah, sampai kue-kue lebaran. Untuk menikmati momen hari kemenangan, tak jarang orang 'kalap' saat menyantap hidangan tersebut. Jika sudah begitu, hanya dalam waktu dua tiga hari, tubuh pun melar karena berat badan naik.

Nah, sebenarnya apa pemicu utama yang membuat bobot bertambah karena kalap saat menyantap berbagai hidangan lebaran?

"Kue itu kalorinya tinggi, satu kastengel saja bisa mengandung 50 kalori. Nastar, putri salju juga sama. Kalau sekali makan misalnya sepuluh buah, sudah 500 kalori. Dalam seminggu berat badan sudah naik setengah kg. Sebulan bisa naik dua kg," tutur dr Titi Sekarindah, MS, SpGK, pakar gizi Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Ia menambahkan, rata-rata menu lebaran mengandung kalori yang tinggi. Misalnya saja opor ayam atau rendang. Maka dari itu, agar bobot tidak bertambah pasca lebaran, dr Titi menyarankan agar jumlah asupan makanan harus dibatasi. Misalnya saja, ketika makan opor ayam sebaiknya tidak dengan kuahnya karena kalorinya yang tinggi. Lauk lainnya misalkan rendang, tidak usah menggunakan terlalu banyak bumbu karena banyak mengandung santan.

Sementara itu, DR dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH mengatakan baik kue lebaran, minuman manis, atau makanan bersantan mengandung banyak kalori yang bisa menimbulkan obesitas. Ia menyaranakan agar setiap orang selalu ingat bahwa makanan yang dikonsumsi di momen-momen lebaran mengandung banyak gula serta kalori tinggi dan itu semua bisa menimbulkan timbunan lemak.

Khususnya kue lebaran, menurut dr Ari, jumlah kalori pada kue bisa mencapai 60 atau 70 kalori per buah. "Kalau makan 10 buah sama aja kita kayak makan siang. Makanya harus diperhatikan energi atau kalorinya" ujar dr Arie.

Lalu, berapa jumlah aman konsumsi kue saat lebaran? dr Ari menyarankan konsumsi kue kering cukup dua atau tiga buah saja. "Sebagai selingan saja. Atau kalau makannya sudah agak banyak, berarti jumlah nasinya dikurangi jadi bisa dibilang sebagai substitusi," katanya.

Senada dengan dr Ari, dr Titi menyebutkan bahwa jumlah aman konsumsi kue lebaran sekitar tiga atau empat buah dalam sehari dengan kandungan 200 kalori. Jumlah itu setara dengan kalori pada makanan selingan. Agar berat badan tidak naik, dr Arie tak lupa mengingatkan agar budaya 'balas dendam' terhadap makanan harus dihindari. Jangan sampai terjadi sindrom yoyo yaitu berat badan yang dilepas lebih sedikit daripada yang dikembalikan.

Sedangkan menurut dr Titi, selain konsumsi sayur dan buah masing-masing tiga porsi setiap harinya, olahraga juga harus dilakukan. "Olahraga misalnya lari, treadmill atau fitness agar terjadi keseimbangan antara kalori yang masuk ke tubuh dengan yang dikeluarkan," pungkasnya.

sumber: health.detik.com

Rabu, 23 Juli 2014

Hati-hati! Program Diet Bisa Berantakan Saat Lebaran




Setelah sebulan berpuasa, tibanya hari kemenangan tentu sangat dinanti. Belum lagi kebiasaan menyantap opor ayam dan ketupat berikut berbagai camilan yang tersedia mendorong lestarinya budaya 'balas dendam'. Namun bagi yang sedang diet, tampaknya kondisi ini bisa jadi ancaman tersendiri.

"Tapi setahu saya enggak banyak ya yang diet terus gagal karena lebaran, tapi ya itu tadi asal kita sadar jumlah makanannya. Orang yang obesitas harus berhati-hati juga sebenarnya," tutur dr Titi Sekarindah, MS, SpGK.

Bagaimana caranya? Menurut dr. Titi antara lain dengan menghindari makan opor berikut kuahnya karena kuah itulah yang mengandung kalori tinggi. Untuk lauk lain, misalnya rendang, jangan dimakan bersama dengan bumbunya karena santannya juga berkalori.

"Ditambah makan sayur yang banyak. Kalau takut dietnya gagal pasti dia jaga diri. Bisa saja dengan lari atau treadmill atau fitness pokoknya diimbangi makanan yang masuk dengan kalori yang dikeluarkan," lanjut pakar gizi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina tersebut.

Sepakat dengan dr. Titi, dr H Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP menambahkan bahwa gagal tidaknya program diet seseorang ketika Lebaran tiba tergantung pada niat yang bersangkutan.

"Kalau memang dia benar-benar pengen beratnya turun ya dia akan jaga, dia akan memaksakan diri untuk tidak banyak makan. Tapi kalau dia memang kurang kuat untuk enggak makan ya sama saja," terang pakar lambung dan pencernaan tersebut.

Konsistensi pada niat ini bisa terlihat pada toleransi orang-orang yang diet ketika ditawari makan, meski hanya selama hari raya saja. Kendati hanya satu-dua hari tapi jika dapat mentolerir tawaran makan, biasanya orang yang diet malah jadi kebablasan, apalagi dengan berlimpahnya jenis makanan yang tersedia. Itu berarti dari awal niatnya untuk menjalankan program diet memang tak cukup kuat.

sumber: health.detik.com

Sabtu, 19 Juli 2014

Hati-hati! Kesalahan Saat Sahur Bisa Jadi Penyebab Kegemukan Saat Berpuasa

Meskipun makan sahur dianggap sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi selama seharian berpuasa, bukan berarti lantas Anda bisa makan sebanyak-banyaknya. Apalagi jika Anda ingin menurunkan berat badan. Kesalahan-kesalahan saat sahur bisa membuat berat badan kian meningkat, lho.

"Cadangan energi memang berasal dari makanan saat sahur, sehingga makanan saat sahur itu harusnya jumlah dan daya tahannya di lambung itu bisa mempertahankan kesediaan energi di saat kita tidak bisa makan. Tetapi kalau konsep 'makan sebanyak-banyaknya' itu juga tidak tepat," tegas Rita Ramayulis, DCN, MKes, dosen jurusan Gizi Poltekkes II Jakarta.

Mengapa makan sebanyak-banyaknya tidak dianjurkan saat sahur? Menurut Rita hal ini berkaitan dengan bagaimana tubuh melakukan proses pencernaan setelah makan sahur. Semakin jumlahnya besar dan semakin membuat lambung penuh, maka membuat proses metabolisme makin sulit. Sehingga pada akhirnya justru timbul reaksi-reaksi negatif di dalam tubuh seperti malas, lemas dan loyo.

"Jadi prinsip yang benar adalah bagaimana energi yang kita peroleh saat sahur itu bisa menjaga kestabilan energi saat kita tidak mengasup makanan atau berpuasa, tanpa membuat basal metabolisme kita terganggu," tutur Rita.

Prinsip 'makan sebanyak-banyaknya' juga tidak mungkin dilaksanakan karena kemampuan lambung seseorang memiliki batas, jadi seseorang faktanya tidak bisa makan apa saja ketika sahur. Terlebih sahur dilakukan pada jam di mana seseorang tidak sedang memiliki nafsu makan yang baik.

Rita menyebutkan jika ada orang yang justru menjadi gemuk ketika berpuasa, maka aktivitasnya saat sahur memiliki kontribusi. Hal ini terjadi ketika pemilihan makanan saat sahur lebih banyak yang berlemak. Seperti diketahui, lemak menghasilkan energi 9 kilokalori per 1 gramnya. Risiko kegemukan ini bertambah jika jenis lemak yang dipilih adalah lemak yang sulit dicerna oleh tubuh kita.

"Apalagi kalau setelah itu dia tidak langsung melakukan aktivitas fisik, tapi tidur. Nah, kebiasaan ini memang berisiko terjadi peningkatan berat badan," lanjutnya.

Ahli gizi lulusan University of Sydney, Australia, Leona Victoria Djajadi, BSc, MND, berpesan untuk mencegah kegemukan maka saat sahur penting untuk menghindari asupan 'miskin' nutrisi seperti snack-snack, kerupuk, permen, sirop dan jus buah komersial. "Asupan tersebut hanya membuat kita menumpuk kalori tanpa kontribusi nutrisi apapun," ucapnya.


sumber: health.detik.com