Jumat, 18 Juli 2014

Diet Canggih di Masa Depan


Banyak alasan yang kerap menghalangi kita untuk menjalankan diet dengan benar. Misalnya saja, malas menghitung kalori makanan, tidak tahu olahraga yang tepat atau durasi yang perlu dilakukan untuk membakar kalori, dan masih banyak lagi.

Tetapi semua hambatan tersebut kelak tidak ada lagi. Di masa depan, menghitung kalori dalam rangka diet akan semudah melihat jam tangan.

Pakar di bidang teknologi diet Tim Vryenhoef memprediksi kecanggihan teknologi dalam membantu program penurunan berat badan di masa depan. Fitur canggih dalam berbagai peralatan elektronik tersebut terutama untuk menghitung kalori makanan.

Misalnya saja ada jam tangan pintar yang bisa melacak asupan kalori kita, cermin pintar yang akan memberi gambaran berat badan ideal yang harus dicapai, serta troli belanja dengan lampu peringatan yang akan menyala jika kita memasukkan makanan tidak sehat.

Ia yakin di masa depan arloji akan semakin canggih. Vryenhoef menyebut salah satunya adalah jam tangan pintar yang disebut-sebut sedang didesain oleh Apple. "Jam tangan kelak secara otomatis bisa menunjukkan jumlah kalori yang sudah kita makan dalam satu hari," katanya.

Selain itu fitur canggih lain adalah bisa menunjukkan target kalori dalam satu hari dan juga target penurunan berat badan yang harus dicapai. Bukan hanya itu, jam tangan pintar tersebut juga bisa mengirimkan pesan motivasi pada waktu-waktu tertentu, terutama di jam ngemil.

Saat ini sebenarnya sudah ada produk yang memiliki fitur mirip, antara lain aplikasi MyFitnessPall yang bisa diselaraskan dengan alat penghitung detak jantung dan pernapasan. Jam ini bukan hanya menunjukkan waktu, tapi juga langkah kaki, kalori yang terbakar, dan detak jantung.

Alat canggih lainnya yang bisa kita andalkan untuk diet adalah pemindai kacamata Google yang memiliki fitur mengukur jumlah kalori dari setiap produk makanan yang akan dibeli.

Saat makan di restoran kita juga bisa dengan mudah menilai jumlah kalorinya dengan memotret makanan tersebut dan melacaknya di layar ponsel.

Dengan berbagai fitur canggih tersebut, tentu tak ada alasan lagi untuk gagal dalam menurunkan berat badan.

Sumber: health.kompas.com

KAKAK ASUH GIZI MASYARAKAT ANGKATAN 50

Data kakak asuh gizi masyarakat angkatan 50 dapat di download di sini

Kamis, 17 Juli 2014

Makan Junk Food Bikin Jerawatan?




Selama ini yang kita tahu kacanglah asupan yang menyebabkan munculnya jerawat di wajah. Padahal namanya mitos, hingga detik ini, belum ada studi yang membenarkan hal tersebut. Justru pakar menuding junk food lebih berperan terhadap munculnya jerawat.

"Meskipun bisa disebabkan oleh faktor genetik, sebenarnya jerawat lebih sering timbul karena faktor lingkungan, kemudian dipicu oleh makanan," kata ahli kesehatan kulit, Dr George Varigos seperti dikutip dari ABC Australia, Kamis (17/7/2014).

Apalagi setelah direktur divisi dermatologi dari Royal Melbourne Hospital itu menemukan ada sejumlah riset yang memperlihatkan peningkatan prevalensi jerawat pada orang-orang yang sering makan makanan olahan. Termasuk penggemar minuman ringan, cemilan berpemanis buatan dan roti tawar.

"Makanan-makanan berglikemi tinggi ini secara tidak langsung menyebabkan munculnya jerawat karena metabolisme berubah sebagai respons dari peningkatan kadar gula darah dan insulin dengan cepat," katanya.

Dari waktu ke waktu kadar insulin yang tinggi tadi akan menyebabkan kulit mengering dan menipis, lantas serpihan dari kulit kering tadi akan menutupi pori-pori dan menyebabkan peradangan. Kedua, insulin yang tinggi akan mendorong peningkatan jumlah hormon androgen di tubuh sehingga kelenjar sebasea di kulit memproduksi lebih banyak minyak dan memicu jerawat.

Studi lain juga menunjukkan tak hanya junk food yang berkontribusi terhadap timbulnya jerawat, tapi juga susu. Dari hasil review terhadap 27 studi ditemukan bahwa susu dan makanan berglikemi tinggi dapat mengakibatkan jerawat bagi sebagian orang.

Lantas harus memilih seperti apa agar terhindar dari jerawat? Dr Varigos menyarankan untuk memilih makanan seperti pasta, nasi merah, apel atau sumber makanan berglikemi rendah lainnya.

"Jangan kebanyakan minum jus juga karena ini bisa menaikkan kadar gula darah dan insulin. Baiknya ganti dengan buah segar saja," tutupnya.


sumber: health.detik.com

Selasa, 15 Juli 2014

Memilih Olahraga yang Tepat di Bulan Puasa




Disaat bulan puasa seperti ini, orang-orang yang bekerja atau berolah raga pagi hari biasanya akan kekurangan tenaga pada siang hari, mungkin juga anda salah satunya.

Masih banyak yang beranggapan bahwa dengan berpuasa kita membatasi segala macam aktivitas normal. Akibatnya, banyak sekali yang menghabiskan waktu puasa dengan bermalas-malasan. Yang biasanya tidak gemar tidur siang, jadi mendadak suka, dan yang biasanya rutin olah raga setiap sore, malah menghentikan aktivitas itu.

Padahal, dengan tetap aktif selama puasa, tubuh anda akan semakin sehat. Kuncinya adalah mengatur waktu olah raga anda.

Saat berpuasa, energi yang anda miliki tentu saja tak sebesar biasanya. Karena itu, pengaturan waktu dan pemilihan jenis olahraga saat puasa sangatlah penting. Anda bisa mulai dengan berolahraga ringan setelah sahur yang tak terlalu banyak menguras tenaga, misalnya jalan kaki.

Olahraga dengan intensitas berat, seperti lari, sepak bola, basket atau pembentukan otot, sebaiknya anda lakukan di sore hari, menjelang waktu berbuka. Tentu saja, olahraga-olahraga itu akan lebih menyenangkan jika anda lakukan bersama keluarga atau teman-teman.

Jangan lupa memperhatikan kondisi kesehatan anda. Jika anda merasa kondisi badan tidak fit, jangan paksakan tetap berolah raga, atau melakukan olahraga yang berat.

Sumber: infogizi.com

Puasa dan Kadar Kolesterol




Selama berabad-abad manusia melakukan puasa sebagai laku pembersihan diri untuk sehat fisik, mental, spiritual. Di jaman moderen ini bukti penelitian semakin banyak menguatkan manfaat sehat puasa. Seharusnya kadar kolesterol jadi membaik karena puasa.

Salah satu penelitian tentang manfaat puasa Ramadan terhadap kesehatan dimuat di American Journal of Applied Sciencestahun 2007. Penelitian itu dirancang untuk mengevaluasi dampak puasa Ramadan terhadap profil lipid plasma dan glukosa serum pada sejumlah mahasiswa Yordania.

Dilaporkan dalam penelitian tersebut bahwa puasa mendatangkan banyak perubahan pada pola tidur, aktivitas fisik dan kebiasaan makan. Perubahan itu mungkin menyebabkan perubahan metabolisme terhadap kesehatan dan penyakit.

Studi itu dilakukan di bulan puasa bulan Oktober 2006. Subyek penelitian adalah 70 orang mahasiswa dan mahasiswi Yordania yang sehat dari tiga universitas. Usia rata-rata mereka 21 tahun.

Parameter yang dihitung adalah berat badan, denyut nadi, tekanan darah diastolik dan sistolik. Semua parameter itu selama empat minggu bulan puasa secara bermakna terlihat lebih rendah dibandingkan sebelum bulan puasa. Dua minggu setelah puasa, berat badan dan parameter lain cenderung kembali ke masa sebelum puasa. Kabar gembiranya, parameter itu masih berada di angka sebelum puasa.

Mereka diperiksa gula darah, trigliserida, kolesterol, kolesterol jahat (LDL), kolesterol baik (HDL) satu hari sebelum, minggu pertama, kedua, keempat bulan puasa serta dua minggu setelah puasa. Ternyata, kolesterol baik meningkat secara bermakna selama bulan puasa. Ini mengindikasikan hubungan positif antara denyut nadi dan asupan lemak. Mengindikasikan pula hubungan negatif antara tekanan darah sistolik dan berat badan.

Kolesterol jahat secara bermakna terlihat menurun di akhir bulan puasa. Tidak pula terlihat kenaikan gula darah di akhir puasa.

Penelitian itu membuktikan bahwa puasa Ramadan memang menurunkan berat badan, kolesterol jahat secara bermakna. Puasa pun secara meyakinkan meningkatkan kadar kolesterol baik. Tidak terlihat pula peningkatan trigliserida dan gula darah di akhir bulan puasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Kamal Mahmoud Saleh Mansi dari Al at-Bayt University Al-Mafrag Yordania itu menyimpulkan bahwa puasa Ramadan berdampak baik terhadap profil lemak darah karena ada pembatasan asupan makanan. Profil lemak darah yang lebih baik ini tentu saja menguntungkan untuk pencegahan penyakit jantung koroner.

sumber: health.kompas.com

Minggu, 13 Juli 2014

Puasa dapat Mengurangi Resiko Diabetes




Orang-orang dengan gula darah tinggi kronis dapat menghindari risiko terjadinya diabetes dengan cara berpuasa secara berkala untuk menurunkan kadar glukosa dalam tubuh, demikian temuan sebuah penelitian baru yang disajikan dalam pertemuan American Diabetes Association Scientific Sessions di San Fransisco.

Manfaat Puasa Bagi Orang Yang Berisiko Diabetes

Para peneliti dari Intermountain Medical Center di Murray, Utah, menemukan bahwa orang-orang tersebut diklasifikasikan sebagai pra-diabetic, karena jumlah gula dalam darah mereka lebih tinggi dari normal namun tidak cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai penderita diabetes.
Pemimpin peneliti, Benjamin Horne, mengatakan bahwa studi sebelumnya telah menunjukkan jika puasa dapat menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan bagi orang-orang yang berisiko mengalami diabetes dan penyakit jantung. Dan penelitian terbaru ini seakan menegaskan temuan tersebut.
“Bersama-sama dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa puasa secara berkala dikaitkan dengan rendahnya risiko diabetes dan penyakit arteri koroner, hal ini membuat kita berpikir bahwa puasa adalah cara yang dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi risiko diabetes dan masalah -masalah yang terkait dengan metabolisme,” katanya.
Para peserta penelitian berusia antara 30 hingga 69 tahun, dan memiliki setidaknya tiga faktor risiko metabolik seperti pinggang yang besar, kadar trigiliserida tinggi, kadar HDL (kolesterol baik) yang rendah, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi.
Setelah 10-12 jam berpuasa, tubuh mulai menyerap sumber energi di seluruh tubuh untuk mempertahankan diri, para peneliti menjelaskan. Mereka menduga bahwa tubuh para pra-diabetic memakan kolesterol jahat (LDL) dalam sel-sel lemak dan meniadakan efek resistensi insulin, faktor kunci dalam diabetes.
Para peneliti juga menemukan bahwa berpuasa membuat kadar kolesterol peserta pra-diabetic mengalami penurunan sebesar 12 persen.
“Sel-sel lemak itu sendiri adalah kontributor terbesar dari resistensi insulin yang dapat menyebabkan diabetes,” Horne menjelaskan. “Karena puasa dapat membantu untuk menghilangkan dan memecah sel-sel lemak, maka resistensi insulin bisa diatasi dengan cara berpuasa.”

via NewsMaxHealth

Jumat, 11 Juli 2014

Buah Potong atau Jus yang Lebih Baik di Konsumsi?

Jus buah sering disarankan para ahli kesehatan agar kita dapat memeperoleh manfaat sekaligus dari aneka buah. Tubuh juga lebih mudah menyerap nutrisi yang ada pada jus. Anak-anak juga menyukai jus buah karena lebih mudah mengonsumsinya.

Namun, sebaiknya jus dibuat tanpa gula tambahan (gula cair/gula pasir) atau sirop. Biarkan rasa manis berasal dari buah itu sendiri (fruktosa). Pemberian gula tambahan dan sirop malah akan mengurangi khasiat dari buah-buahan yang dibuat jus tersebut.

Jus yang telah dibuat sebaiknya segera diminum. Bila disimpan terlalu lama, vitamin yang ada dapat rusak oleh oksigen dan ultraviolet yang ada di sekitar kita. Jadi, buatlah jus ketika hendak diminum.

Perlu diingat, meski jus buah lebih disukai, anak-anak tetap harus dibiasakan mengonsumsi buah potong/buah segar. Perlunya tetap mengonsumsi buah segar bermanfaat bagi lambung dan usus, karena pada saat proses mengunyah, lambung akan bekerja dan membakar kira-kira 20 kkal. Buah segar akan memberikan manfaat serat sehingga anak terbebas dari sembelit. Jadi, tetaplah mengonsumsi buah segar/buah potong karena tidak seluruh manfaatnya dapat diganti dengan jus.

Konsumsi buah yang ideal adalah 2-3 porsi perhari karena buah merupakan sumber vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk membantu metabolisme energi, mengatur pertumbuhan dan berperan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh.

Vitamin dan mineral memang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil, namun pada umumnya vitamin dan mineral tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh sebab itu, untuk mendapatkannya harus didatangkan dari makanan, salah satunya dari buah potong segar.

Usahakan mengonsumsi buah yang berbeda dalam 2 atau 3 porsi itu. Misalnya pagi hari pisang, siang hari jeruk, dan malam hari makan buah pepaya.

sumber: health.kompas.com